Apa yang Tidak Membunuh Membuat Kita Lebih Tangguh

May 21, 2019

Kehidupan tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Bahkan sering kali banyak hal terjadi diluar apa yang kita inginkan. Sehingga hal-hal di luar kendali kita ini kerap menjadi penyebab trauma pada seseorang. Membuat seseorang merasa tidak mampu lagi melakukan sesuatu atau bahkan tidak mampu untuk melanjutkan hidup.

Ada banyak orang yang mengalami musibah dan kemalangan kemudian harus mendapatkan dampak tambahan dari kejadian tersebut dalam pikiran mereka. Mereka akhirnya harus berjuang untuk mengembalikan kewarasan karena umumnya gangguan kewarasan juga berhubungan dengan kesehatan fisik. Itu mengapa trauma memang menghasilkan rasa sakit yang luar biasa.

What doesn't kill us makes us stronger, apa yang tidak membunuh kita akan membuat kita menjadi lebih tangguh. Sebuah frasa yang umumnya telah kita kenal karena memang frasa ini terkenal lewat lagu yang dilantunkan oleh Kelly Klarkson berjudul Stronger. Sebagaimana dalam lagu tersebut kita diajak untuk bisa kembali berdiri usai mengalami kegagalan, trauma atau pun hal-hal yang mengecewakan.

Kembali berdiri memang tidak mudah, sebab ada banyak hal yang kerap kali menahan seseorang untuk bisa bangkit. Namun sulit bukan berarti tidak mungkin.

Dalam ilmu psikologi klinis, dikenal istilah Post Traumatic Growth (PTG) yang bersandingan dengan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). PTG dalam dunia psikologi dinilai sebagai upaya untuk bisa keluar dari situasi trauma. Pencetus istilah ini adalah seorang ahli psikologi dari Inggris, Stephen Joseph Ph.D.

Menariknya Stephen adalah penulis buku berjudul sama seperti frasa yang dinyanyikan oleh Kelly Klarkson, What Doesn't Kill Us: The New Psychology of Post Traumatic Growth. Dalam buku yang terbit pada tahun 2011 tersebut Stephen menjelaskan enam hal yang perlu dilakukan seseorang untuk bisa bangkit dari masa traumatis:

Berlatih menghadapi stres trauma

Seseorang harus bisa mengendalikan respon traumanya ketika stres pemicu datang. Hal ini memang tidak bisa dilakukan sendirian, sehingga Stephen menyarankan agar seseorang perlu didampingi seorang yang lebih mengerti seperti psikolog.

Berlatih untuk memiliki harapan di masa depan

Harapan di masa depan akan menjadi sebuah tujuan bagi seseorang yang menghadapi trauma. Ketika tujuan telah tergambar, ia akan bisa mulai berjalan. Seseorang yang dalam masa trauma juga perlu untuk membaca inspirasi-inspirasi lain dari orang lain yang pernah mengalami trauma serupa kemudian berhasil pulih.

Menghargai perubahan

Perubahan sekecil apapun untuk menghadapi trauma akan sangat berharga. Seseorang harus bisa sadar bahwa kondisi saat ini adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Harapan masa depan memang penting tetapi ia harus bisa untuk bangkit untuk masa sekarang.

Menyadari perubahan

Untuk mengetahui adanya perubahan seseorang harus bisa menyadari adanya perubahan. Ada banyak cara untuk menyadari perubahan ke arah yang lebih baik, salah satunya adalah dengan selalu mencatat suasana hati ataupun situasi kehidupan sehari-hari. Kemudian di suatu titik masa lalu dapat dibaca kembali untuk disadari bahwa ada banyak hal yang telah berubah.

Menulis ulang narasi kehidupan

Ketika seseorang sudah sadar bahwa dirinya perlu berubah, ia juga perlu untuk bisa menyampaikan perubahan itu dengan baik. Metode menulis ekspresif adalah salah satu cara agar seseorang bisa menemukan perspektif baru terkait kehidupan masa depannya maupun masa lalunya yang traumatis.

Berekspresi nyata

Hal terakhir yang perlu dilakukan seseorang untuk bisa tumbuh menghadapi masa trauma adalah dengan bisa terus produktif menghasilkan pekerjaan atau aktifitas. Dengan aktifitas yang produktif perspektif akan berubah dari bagamiana memaknai kehidupan menjadi bagaimana membuat hidup yang bermakna.

Seseorang yang bertanya-tanya apa makna kehidupan cenderung akan terjebak pada masa lalu dan mempertanyakan mengapa hal ini dan itu terjadi. Sementara mereka yang sibuk menciptakan makna dalam kehidupan akan bisa melihat kehidupan yang ideal di masa depan.


Enam hal tersebut menurut Stephen bukan sekadar cara untuk mengatasi atau pelarian. Tetapi bisa menjadi panduan ketika momen traumatis terjadi. Dalam artikelnya Stephen kemudian menjelaskan bahwa PTG adalah ibarat tentang seseorang yang menghadapi vas yang pecah. Apakah ia berusaha untuk mengembalikan vas yang pecah itu kembali seperti semula, ataukah berusaha untuk memungut pecahan-pecahan yang ada untuk menjadi sesuatu yang lebih bermakna dalam bentuk yang lain.

Ingatan maupun kejadian traumatis memang tidak bisa dihapuskan. Kejadian itu akan terus ada dan menjadi bagian dari identitas seseorang, namun jika seseorang sadar bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup akan memberikan makna di masa mendatang, maka ia akan bisa melepaskan diri dari jebakan masa traumatis.

"Kamu tidak bisa menghubungkan momen-momen hidup dengan melihat ke depan. Kamu hanya bisa menghubungkannya dengan melihat ke belakang. Dan kamu harus percaya bahwa momen-momen itu akan saling terhubung dengan masa depan."

Steve Jobs mengatakan kalimat itu dengan konteks bahwa sejarah seseorang pasti akan mengantarkan seseorang ke masa depannya. Seseorang tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi masa lalunya, seberat apapun itu akan memberi jalan di masa depan. Hingga akhirnya momen-momen itu akan tergambar sesuatu dalam kehidupan seseorang. Sebuah hidup yang bermakna.

Nah, untuk sobat Krucils yang sedang berjuang menghadapi masa-masa sulit. Tetap semangat! Mincils akan terus memberikan semangat untuk kalian dan juga bimbingan lewat webinar-webinar berkualitas. Semoga dengan adanya bimbingan dari para ahli kalian bisa mengembangkan diri dan juga keluarga yang lebih baik.

referensi:
https://www.goodreads.com/book/show/12377178-what-doesn-t-kill-us
https://www.huffpost.com/entry/what-doesnt-kill-us-post_b_2862726


Written by TEKNOIA Creative for Krucils Indonesia
Daftar Webinar Krucils Sekarang