Belajar Pengalaman Hidup yang Pahit dari Seorang Oprah Winfrey

July 4, 2019

Kehidupan adalah sesuatu yang misterius, unik, penuh ketidakpastian. Tidak ada yang tahu seperti apa hari esok, dan tidak ada yang tahu bagaimana jalan masa depan seseorang. Sehingga kerap kali membuat banyak orang bertanya-tanya tentang mengapa dirinya mengalami hal yang menarik, yang aneh dan juga yang tidak diinginkan.

Kita pun mungkin sering tidak memahami bahwa kehidupan akan memberikan banyak sekali pelajaran. Seperti kisah perempuan bernama Oprah Gail Winfrey.

Oprah Gail Winfrey atau lebih dikenal dengan nama Oprah Winfrey adalah perempuan berkulit hitam yang lahir di Kosciousko, Mississppi pada 29 Januari tahun 1954 dari keluarga Vernita Lee dan Vernon Winfrey. Perempuan yang harus menjalani hidup masa kecil yang kelam dan penuh kesulitan dan mimpi buruk.

Masa kecil Oprah

Semua bermula ketika orang tua Oprah yang memang tidak menikah berpisah tidak lama setelah kelahirannya. Oprah kemudian ditinggalkan bersama sang nenek di perkebunan. Perempuan kecil malang itu harus hidup dengan banyak sekali keterbatasan dan aturan yang ketat dari sang nenek. Beruntung, Oprah mampu membaca saat dirinya masih berusia dua setengah tahun.

Saat Oprah kecil beranjak usia enam tahun, ia dipindahkan ke tempat ibunya di utara, di lingkungan kumuh (ghetto) Milwaukee. Lingkungan ini adalah daerah yang sangat miskin dan sangat berbahaya. Oprah tinggal disebuah asrama kecil menemani ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dan saudara perempuannya Patricia.

Namun Oprah hanya sebentar berada di Milwaukee bersama ibunya, ia kembali pindah. Kali ini ia dikirim ke tempat sang ayah di Nashville, Tenesse. Oprah sempat merasakan masa kecil yang bahagia bersama ayahnya. Ia mendapat kesempatan untuk sekolah, rutin datang ke gereja dan mendapat banyak kesempatan untuk berbicara di depan publik meski masih sangat belia.

Setelah menyelesaikan sekolah kelas tiga, Oprah diajak untuk bertemu dengan sang ibu di Milwaukee. Hingga pada musim gugur, ayahnya mengajak Oprah untuk kembali ke Nashville namun Oprah menolak. Ia lebih ingin bersama dengan ibunya di Milwaukee.

Ghetto Oprah

Pelecehan seksual

Malapetaka kemudian terjadi, saat Oprah berusia sembilan tahun ia harus mengalami kejadian yang sangat traumatis. Kala itu ia mendapatkan pelecehan seksual oleh sepupunya yang berusia 19 tahun. Oprah diperkosa namun diminta bungkam setelah diberi es krim.

Namun tidak sampai disitu, pelecehan kembali terjadi dalam beberapa tahun kemudian. Oprah dilecehkan banyak pihak mulai dari teman dan keluarga, salah satunya adalah pamannya sendiri. Hanya saja, Oprah selalu bungkam selama bertahun-tahun.

Situasi lingkungan yang tidak baik juga membuat Oprah menjadi perempuan yang sulit diatur. Ia membolos, berkencan, bahkan mencuri uang dari ibunya. Sang ibu tentu tidak tahan dengan kelakuan anak gadisnya, Oprah kemudian dikirim kembali ke sang ayah di Nashville. Kala itu Oprah berusia 14 tahun.

Kehamilan di usia belia

Kemalangan belum berakhir, Oprah ternyata hamil namun ia tidak berani untuk memberitahukan hal itu pada ayahnya. Ia tetap diam hingga usia kehamilan tujuh bulan. Kala itu ia mulai berani bercerita pada ayahnya, tapi tidak lama berselang jabang bayi laki-laki lahir yang dua minggu kemudian meninggal.

Oprah yang kini dikenal sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia kerap menceritakan bahwa pengalaman masa kecilnya begitu kelam dan membuatnya trauma. Masa-masa itu sempat membuatnya depresi dan ingin mengakhiri hidupnya.

Buku, menjadi sumber titik balik

Beruntung, suatu ketika Oprah membaca sebuah otobiografi dari Maya Angelou. Seorang aktris, penulis dan orator kulit hitam yang sukses kala itu. Oprah membaca buku berjudul "I Know Why the Caged Bird Sings". Buku itu dalam waktu singkat berhasil mengubah cara pandang gadis belia berusia 16 tahun secara drastis.

Berkat buku, Oprah kembali menemukan tujuan hidupnya dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan lagi pendidikannya serta mendalami dunia public speaking.

Hasilnya membanggakan, pada tahun 1970 akhirnya memenangkan kompetisi bicara di depan publik di klub Elk lokal. Hadiah dari kompetisi itu adalah beasiswa kuliah untuk empat tahun.

Satu tahun kemudian Oprah berkesempatan untuk hadir di White House Conference on Youth di Colorado. Dalam momen tersebut Oprah diwawancarai sebuah stasiun radio yang kemudian merekrutnya sebagai penyiar. Inilah momen interaksi Oprah dengan dunia penyiaran dan jurnalisme yang akhirnya melejitkan namanya hingga saat ini.

Setelah itu karir Oprah adalah sejarah, berbagai pencapaian ia raih. Ia dinobatkan sebagai Miss Black Tenesse di usia 18 tahun. Karirnya di dunia penyiaran terus meningkat hingga ia memiliki sebuah program sendiri bernama Oprah Winfrey Show yang berawal pada tahun 1986. Program ini adalah program pertunjukan bincang-bincang (talkshow) yang menempatkan Oprah sebagai salah satu perempuan berkulit hitam yang sukses di industri penyiaran Amerika.

Dalam pertunjukan tersebut Oprah banyak mengangkat cerita-cerita inspirasi yang kerap menyentuh para pemirsanya. Ia juga banyak memberikan kisah-kisah penyemangat untuk para penyintas pelecehan seperti dirinya.

Isu-isu kemanusiaan seperti rasisme dan kemiskinan merupakan tema yang juga sering Oprah tampilkan. Tidak ketinggalan, Oprah juga berhasil mendatangkan tokoh-tokoh berpengaruh di Amerika Serikat sebagai tamunya. Tidak heran jika Oprah amat dicintai masyarakat Amerika Serikat.

Terbukti, Oprah Winfrey Show menjadi acara talkshow dengan rating tertinggi dalam sejarah Televisi Amerika Serikat. Program ini berlangsung selama 25 tahun hingga akhirnya berakhir pada 25 Mei 2011. Pada talkshow terakhir tersebut kabarnya ada sebanyak 16,4 juta pemirsa yang menyaksikan dan menempatkannya menjadi acara terlaris.

Forbes menyebut bahwa kesuksesan Oprah terletak pada kemampuannya untuk tetap memiliki tujuan yang kuat. Kepercayaan pada kebaikan yang dipegangnya teguh dan membawanya pada kesuksesan tidak membuatnya silau. Bahkan masa lalunya yang kelam tidak mampu menyentuhnya sedikitpun.

At the end of the day I think that I'm a survivor

Oprah Winfrey

Kisah perjalanan hidup Oprah tentu saja menjadi sebuah inspirasi bahwa hidup tidak melulu tentang kesengsaraan. Ada kalanya hidup memberikan pelajaran-pelajaran penting. Memang pelajaran itu kerap kali hadir dengan begitu menyakitkan. Namun kesabaran agaknya menjadi kunci dari momentum keberhasilan.

Webinar seri kedua Krucils Indonesia yang berjudul Accepting Your Pain It Will Hurt Less adalah upaya mincils dan rekan-rekan untuk berusaha memberikan perspektif yang positif tentang kehidupan. Kegagalan, kesulitan dan rintangan yang mungkin sedang dihadapi sobat krucils harapannya bisa menjadi pelajaran yang penting untuk membangun karakter yang lebih tangguh.

Mincils pun berharap, sobat krucils bisa mengambil banyak pelajaran saat webinar berlangsung. Semoga bermanfaat, semoga kalian bisa menjadi sosok yang tangguh dan siap menyambut kesuksesan di masa depan!

Daftar Webinar Krucils Sekarang