Membangun dan Menjalani Pernikahan. Ini Persiapan yang Harus Dilakukan

May 27, 2019

Pernikahan merupakan hal yang disakralkan oleh mayoritas budaya di dunia. Sebab pernikahan menjadi pondasi dalam sebuah masyarakat. Namun tidak banyak pasangan yang memahami apa arti dari sebuah pernikahan, baik tentang makna maupun tujuannya. Ketidaktahuan tentang makna dan tujuan ini bisa berpotensi untuk merusak kesakralan sebuah pernikahan. Sehingga mengetahui makna dan tujuan pernikahan adalah hal yang penting.

Secara umum, pernikahan dilakukan untuk mencapai tujuan spiritual seperti untuk ibadah maupun untuk mencapai ketentraman jiwa. Pasangan yang menikah akan merasa tentram karena keduanya akan bisa saling mendukung dan menemani. Tidak hanya itu pasangan pun juga akan bisa mendapatkan ketentraman dari saling berkasih sayang serta anak untuk melanjutkan keturunan.

Bagian-bagian yang membangun pernikahan

Jika diibaratkan sebuah badan, pernikahan mungkin lebih seperti sebuah kombinasi antara jiwa dan fisik yang bersinergi bersama. Jika jiwa memiliki komponen yang harus diperhatikan, begitu pula dengan fisik yang juga memiliki komponen pembangun. Pernikahan juga seperti itu, memiliki bagian-bagian yang membangun untuk mencapai tujuan.

Bagian-bagian yang dimaksud adalah seperti niatan awal, visi, dukungan finansial, komunikasi ataupun komitmen. Mari kita bahas satu persatu bagian-bagian ini.

1. Niat

Niat merupakan motif dari segala tindakan seseorang. Tanpa niat yang kuat tindakan biasanya tidak dapat tercapai dan tidak terlaksana. Dalam konteks pernikahan, niat harus bisa menjadi pondasi dasar mengapa dua insan memutuskan untuk membangun rumah tangga. Itu sebabnya niat pasangan harus dikomunikasikan dengan baik sehingga bisa saling dimengerti dan dipahami.

Niat yang baik dalam pernikahan adalah niat yang bisa memicu rumah tangga untuk menghasilkan kebaikan. Dalam pernikahan Islam misalnya, niat dalam pernikahan harus didasarkan pada keinginan untuk memenuhi tuntunan agama dan untuk menjauhi dirikan diri dari hal-hal yang haram.

2. Visi

Mirip seperti niat, visi merupakan bagian yang tak terupa dari sebuah pernikahan. Visi hanya dapat dibayangkan namun tidak dapat diindera. Visi dalam pernikahan bisa menjadi sebuah tujuan dan jalur yang ingin ditempuh kemudian akan menjadi kekuatan untuk bergerak bersama. Tanpa visi yang dipahami bersama, pernikahan akan sulit untuk berjalan karena akan terjadi konflik kepentingan. Sebab kepentingan hidup yang mulanya dilakukan sendirian kini harus bisa dilakukan bersama.

Untuk membuat visi yang seirama, visi perlu dikomunikasikan diantara pasangan. Caranya adalah dengan sering-sering menyampaikan impian-impian yang ingin diraih bersama dalam sebuah pernikahan dengan jelas.

Kejelasan visi akan membuat seseorang berhasrat dan jujur untuk bisa mencapainya. Kemudian untuk bisa mencapainya diperlukan target yang jelas. Tentukan visi yang baik kemudian tentukan target-target yang bisa dicapai.

3. Komunikasi

Saling mengerti dan saling memahami dalam pernikahan adalah tantangan yang harus bisa diatasi. Karena sebelum pernikahan terjadi, perilaku dan sikap seseorang tidak perlu mengalami kompromi, sementara dalam pernikahan akan terjadi tabrakan kebiasaan maupun nilai-nilai. Itu sebabnya dalam pernikahan diperlukan komunikasi yang baik agar relasi antar pasangan tetap terjalin dengan baik.

Dalam bukunya, More Love, Less Conflict: A Communication Playbook for Couples, Jonathan Robinson menjelaskan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pasangan untuk menjaga komunikasi. Seperti selalu mengapresiasi, aktif mendengar, mengkritisi dengan santun, selalu bersikap positif, tidak menunjuk "kamu" ketika terjadi kesalahan. atau sekadar bertanya kabar kegiatan sehari-hari.

4. Komitmen

Dalam pernikahan, ada ruang-ruang yang dahulu terbuka luas untuk orang banyak kemudian harus tertutup. Diakui atau tidak, ruang yang tertutup seperti interaksi bebas dengan orang lain harus dijaga dengan komitmen yang kuat. Dengan adanya komitmen bersama yang kuat pernikahan akan mampu berjalan bersama. Ada kesepakatan-kesepatakan dan bahkan sumpah yang harus dijaga selama pernikahan. Tidak heran jika kemudian komitmen adalah salah satu bagian penting dari pernikahan yang membahagiakan.

5. Dukungan Finansial

Finansial atau harta ibarat air untuk tanaman, harta akan bisa menjadi sumber kehidupan yang bisa terus melanggengkan hidup. Pun berlaku pula untuk pernikahan, kondisi finansial dalam pernikahan harus benar-benar diperhitungkan sehingga tidak menghambat perjalanan pernikahan.

Menariknya, kondisi finansial dalam ikatan pernikahan cenderung mengalami peningkatan. Seperti yang diungkap oleh Jay Zagorsky dalam bukunya Marriage and Divorce's Impact on Wealth. Menurut Jay, para responden menikah yang terlibat dalam penelitian mengalami peningkatan 14 persen kekayaan dibanding mereka yang memutuskan untuk tetap melajang.

Penelitian ini setidaknya bisa menjadi motivasi agar pernikahan bisa mendapatkan dukungan dari segi finansial. Tentu saja untuk mendapat kondisi finansial dalam pernikahan yang baik, perlu perencanaan yang baik dan rapi agar rencana-rencana rumah tangga bisa tercapai seperti persalinan dan juga biaya-biaya lain.

Bagian-bagian tersebut akan menjadi sebuah pakaian bagi pasangan dalam pernikahan. Dalam pernikahan Islam pasangan adalah ibarat pakaian yang akan memberikan kehormatan dan perlindungan. Sehingga pernikahan harus dijaga dan dirawat sebaik-baiknya.

Selain itu ada pula hal yang penting untuk diperhatikan adalah inti dari sebuah pernikahan adalah bagaimana untuk tidak terjebak melakukan kesalahan-kesalahan pernikahan berulang-ulang.

Kesalahan-kesalahan dalam pernikahan

Apa saja kesalahan-kesalahan tersebut? Beberapa kesalahan dalam pernikahan menurut Brittany Wong antara lain adalah menyepelekan kehidupan seksual dan kesehatan, memiliki ekspektasi yang tidak realistis dari sebuah pernikahan, berharap agar pasangan bisa mengobati luka masa lalu ataupun takut untuk berbagi apa yang dipikirkan dan dirasakan.

1. Menyepelekan kehidupan seksual dan kesehatan

Hidup bersama dalam sebuah ikatan pernikahan salah satunya adalah untuk mendapatkan ketentraman. Ketentraman ini dapat diperoleh salah satunya dengan kehidupan seksual yang sehat. Tanpa adanya rasa ketertarikan secara seksual satu sama lain pernikahan bisa tenggelam tanpa ada hasrat dan nafsu yang berperan sebagai dorongan.

Sementara dalam aspek kesehatan, hidup bersama-sama adalah tentang saling mendukung dan menopang di situasi apapun. Saling menjaga kesehatan adalah bagian dari keharmonisan. Pun jika salah seorang mengalami sakit pasangannyalah yang harus mampu untuk mendampingi dan mendukung.

Menariknya, pakar psikologi Amerika, Tony Ferretti, Ph.D menjelaskan bahwa pernikahan memiliki manfaat kesehatan. Penelitian pada tahun 2015 yang melibatkan 3,5 juta orang dewasa di Amerika mengungkap bahwa ada korelasi positif antara pernikahan dan kesehatan jantung. Menurutnya, orang yang menikah memiliki risiko sakit terkait jantung 5 persen lebih rendah terserang penyakit jantung dibandingkan dengan pelajang.

2. Ekspektasi yang tidak realistis

Seseorang boleh saja memiliki impian yang tinggi bersama pasangannya. Namun ekspektasi untuk mendapatkan pasangan yang ideal bisa jadi adalah sesuatu yang diluar jangkauan. Misalnya berekspektasi pada pasangan agar bisa terus menerus memanjakan ataupun bersikap romantis.

Kunci untuk menjaga ekspektasi tetap membumi adalah dengan menerima pasangan sesuai kadarnya. Bukan berarti menerima pasangan sesuai dengan karakternya, namun tetap sadar bahwa pasangan masih bisa mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan menjadi lebih baik.

Seperti jika seseorang memiliki keretakan dalam rumah tangga di masa kecilnya. Ia akan tumbuh menjadi orang yang sangat membutuhkan kasih sayang lebih. Pasangan harus mulai bisa memahami kebutuhan ini meski tidak serta merta bisa mengobatinya.

3. Menikah untuk mengobati luka masa lalu

Berusaha untuk menyembuhkan luka masa lalu atau trauma masa lalu baik di masa kecil maupun saat dewasa tidak bisa dijadikan motif dalam pernikahan. Sebab pernikahan adalah fase yang baru dalam kehidupan seseorang. Untuk menghindari masalah dalam pernikahan trauma-trauma hendaknya diselesaikan sebelum terjadinya pernikahan. Namun jika pernikahan telah terjadi, pasangan harus bisa menyelesaikan bersama, kalaupun tidak pasangan harus bisa saling menerima.

4. Tidak terbuka

Takut untuk bercerita atau takut untuk menjelaskan perasaan dan pikiran bisa menjadi hambatan dalam komunikasi pernikahan. Pasangan yang tidak terbuka akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan potensi kecurigaan, merasa tidak dipercaya atau bahkan merasa tidak bisa diandalkan. Padahal dalam pernikahan satu sama lain harus bisa menciptakan rasa aman dan tentram. Sehingga ketidakterbukaan harus sangat dihindari.

Mengedukasi diri, mempersiapkan diri

Melangsungkan pernikahan dan menjalankan pernikahan adalah dua hal yang berbeda. Mengadakan pesta pernikahan yang terkesan wah dan glamor sesuai impian memang menyenangkan, namun menjalani pernikahan adalah hal yang paling penting untuk diperhatikan.

Untuk dapat menjalani pernikahan dengan baik diperlukan pengetahuan dan wawasan. Pasangan tidak hanya harus belajar dari referensi-referensi tekstual tetapi juga perlu untuk mencari ilmu dari lingkungan sekitar. Mengedukasi diri dan mempersiapkan diri adalah hal yang penting untuk dilakukan. Tidak hanya salah satu pihak tetapi juga dari kedua pihak.

Jika pernikahan kuat bukan tidak mungkin impian-impian yang telah dicanangkan bersama dapat terwujud. Sehingga memberikan kebahagiaan-kebahagiaan dan kebaikan-kebaikan.


Nah buat kamu calon mempelai ataupun mempelai muda yang ingin memperdalam ilmu tentang pernikahan. Kamu bisa pertimbangkan tawaran Mincils nih.

Krucils Indonesia akan mengadakan paket webinar "Marriage Starter Pack" yang akan memberikan banyak edukasi dan pengetahuan seputar pernikahan. Kamu akan mendapatkan banyak fasilitas tambahan menarik yang akan bisa membuatmu semakin siap untuk menjalani pernikahan. Jangan sampai ketinggalan karena paket ini kami tawarkan secara terbatas.


Written by TEKNOIA Creative for Krucils Indonesia
Daftar Webinar Krucils Sekarang