Mempersiapkan Mentalitas Menjadi Sosok Siap Menikah

May 27, 2019

Ada tiga hal yang dijamin oleh Tuhan pada seorang manusia yakni rezekinya, usianya dan jodoh. Dua hal pertama berkaitan secara eksklusif pada diri sendiri sementara jodoh memiliki persinggungan dengan sesama manusia. Persinggungan yang terjalin dalam sebuah pernikahan.

Namun meski telah dijamin oleh Tuhan, manusia tetap dituntut untuk mampu mempersiapkan diri kala menyambut jodoh yang telah ditetapkan. Persiapan tersebut salah satunya adalah persiapan mental yang menyangkut niat, memahami tanggung jawab dan keilmuwan.

Perlu dipahami bahwa pernikahan bukan perlombaan. Sehingga seseorang tidak bisa menganggap menikahnya orang lain dengan jodohnya adalah kemunduran bagi kita yang belum menikah. Sebab kembali lagi pada paragraf awal bahwa jodoh itu telah dijamin oleh Tuhan. Sehingga yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangannya layaknya rezeki dan usia. Ketika seseorang memahami bahwa nikah bukan perlombaan, seseorang akan bisa lebih matang untuk mempersiapkan dirinya.

Niat yang paripurna

Persiapan menikah yang paling awal adalah niat. Niat merupakan benih utama dari sebuah tindakan, baik yang kecil maupun besar. Berawal dari niat, sebuah pernikahan akan terarah kemanapun niat tersebut bermula. Boleh dikata, tidak ada niat yang salah dalam sebuah menikah, yang ada adalah niat yang belum sempurna. Niat yang hanya berharap kebahagiaan dunia, niat untuk mendapatkan kekayaan dan status adalah beberapa diantaranya. Niatan-niatan tersebut belum sempurna karena memiliki akar yang rapuh yakni keduniawian. Sementara pernikahan adalah tentang dunia dan akhirat.

Pernikahan yang hanya berorientasi materi dunia akan mudah untuk kandas di tengah jalan karena elemen pembentuk pernikahan seperti cinta, kasih sayang dan kebahagiaan adalah hal-hal yang tidak kasat mata. Ketika seseorang merasa tidak mendapatkan bahagia dalam pernikahan bisa jadi ia akan menyalahkan pernikahan sebagai penyebabnya. Padahal bisa jadi pernikahan yang tidak membahagiakan itu tidak memiliki cinta dan kasih sayang di dalamnya.

Niat, pada akhirnya membutuhkan deklarasi yang jelas. Apa niat kita untuk menikah? Harus diketahui dengan jelas dan mampu melampaui orientasi dunia. Sebuah niat yang paripurna yang tidak akan berubah-ubah hingga akhir hayat dalam pernikahan.

Paham Tanggung Jawab

Ketika niat telah ditentukan, persiapan selanjutnya adalah tentang memahami tanggung jawab sebagai seseorang yang telah menikah. Menjadi calon suami maupun calon suami harus mengerti hal apa yang akan ditanggung ketika telah menikah. Beberapa diantaranya adalah tanggung jawab terkait anak seperti bertanggung jawab memberi nama anak yang baik, memberi pendidikan anak yang baik dan menikahkan anak ketika waktunya tiba.

Tanggung jawab lainnya adalah tanggung jawab untuk berperan sesuai dengan porsinya masing-masing. Seorang suami bertanggung jawab untuk memimpin sebuah keluarga untuk terus bisa berfungsi sebagai keluarga yang baik baik setiap anggotanya maupun untuk lingkungan sekitarnya. Sementara seorang istri bertanggung jawab dalam manajerial dan menjaga keteraturan keluarga agar tetap dalam jalan yang lurus sesuai niat pernikahan yang telah ditentukan.

Jelas bahwa memahami tanggung jawab adalah sesuatu yang perlu dipersiapkan sebelum menikah karena semua peran-peran itu harus dipahami sebelum pernikahan terjadi.

Terus menerus menambah ilmu

Mungkin kamu bertanya-tanya mengapa ilmu menempati posisi ketiga dalam tahap ini. Penempatan ilmu menjadi persiapan berikutnya menurut kami adalah karena ilmu akan menjadi persiapan yang dinamis. Ilmu akan terus menerus berkembang dan meluas.

Dalam konteks pernikahan, ilmu seperti memahami hukum-hukum tatacara pernikahan adalah ilmu sebelum terjadinya pernikahan. Sementara ketika pernikahan terjadi ilmu yang dibutuhkan adalah ilmu-ilmu seputar membangun keluarga dan interaksi sosial lingkup pernikahan.

Contoh yang umum adalah pasangan suami istri harus memiliki ilmu tentang bagaimana mengatur finansial, kesehatan, mengatur rumah tangga, hingga bagaimana mengasuh anak. Semua itu tidak serta merta perlu untuk diketahui sebelum pernikahan, namun bisa dilakukan ketika pernikahan berjalan.

Mengapresiasi proses belajar harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari pernikahan karena ilmu dalam pernikahan akan terus mengalami koreksi dan pembaharuan. Itu sebabnya, sepasang suami istri dalam pernikahan tidak boleh berhenti untuk meningkatkan kualitas diri dan terus belajar

Tiga hal di atas bila diperhatikan dan catat baik-baik akan menjadi persiapan mental yang sangat penting untuk menyambut jodoh. Ada baiknya bagi kamu yang mulai memikirkan pernikahan, mulai mencari tahu dan mempelajari persiapan-persiapan di atas. Jika boleh memberi saran, salah satu hal penting yang perlu kamu lakukan adalah persiapkan hal-hal tersebut bersama dengan orang yang memiliki ilmu seperti seorang guru.

Nah, bagi kamu yang membutuhkan mentor atau guru untuk mempersiapkan pernikahan, kamu bisa mendaftarkan diri ke Webinar Krucils "Marriage Starter Pack". Webinar ini akan menjadi panduan yang lengkap bagimu untuk mempersiapkan diri menuju sebuah pernikahan. Simak terus Krucils Indonesia ya.


Written by TEKNOIA Creative for Krucils Indonesia
Daftar Webinar Krucils Sekarang