Mengetahui yang Tidak Diketahui Dalam Pernikahan

September 4, 2019

Ada banyak hal yang kerap kali tidak diketahui pasangan dalam sebuah persiapan menuju pernikahan. Itu mengapa Krucils Indonesia berusaha untuk mendatangkan narasumber yang mumpuni untuk menjelaskan apa yang perlu sobat ketahui tentang sebuah pernikahan lewat Webinar #5 Unspoken Truth of Marriage.

Dalam webinar kelima ini Mincils mendatangkan dua narasumber yakni Julia Jasmine dan juga Amy Mardhatillah Ph.D. Keduanya merupakan narasumber yang memiliki wawasan yang unik tentang sebuah pernikahan.

Julia Jasmine dikenal sebagai salah satu anak muda yang kabar biaya menikah ekonomisnya viral di sosial media. Di webinar Krucils kali ini, Julia berbagi cerita tentang bagaimana mengadakan pesta pernikahan dengan biaya yang terjangkau. Selain itu Julia yang juga hadir bersama suami, Aldi bercerita tentang hal-hal yang sebelumnya tidak terungkap dari pernikahan yang sudah mereka jalani selama satu tahun.

Keduanya bercerita bahwa mereka memang merencanakan pesta pernikahan hanya dalam waktu yang singkat, hanya dalam waktu satu bulan. Namun untuk perencanaan pernikahan sudah mereka lakukan sejak satu tahun sebelumnya. Hal ini dilakukan karena keduanya sadar bahwa pernikahan itu adalah hal yang perlu direncanakan secara matang, sementara pesta pernikahan sebaiknya sederhana saja, sehingga acara yang lebih intim dengan keluarga dekat lebih baik.

Dampak dari lebih mengutamakan keluarga dekat adalah, jumlah undangan yang lebih sedikit dari acara pesta pernikahan pada umumnya dan akhirnya memengaruhi biaya acara yang terbilang terjangkau.

"Pernikahan itu memang penting tapi bukan berarti kita harus mengeluarkan uang yang sangat banyak. Karena keuangan after-nya (setelah menikah) bisa saja lebih penting misalnya untuk DP Rumah, kebutuhan Rumah Tangga, juga jangka panjang untuk pendidikan anak," kata Aldi.

Ada banyak hal yang harus dikompromikan agar pernikahan keduanya bisa dilaksanakan dengan biaya yang terjangkau. Misalnya seperti acara lamaran yang semula tidak direncanakan ternyata harus diadakan dengan biaya minimal. Riasan sederhana dan pakaian sepantasnya akhirnya menjadi pilihan. Ada banyak hal lainnya juga yang harus disederhanakan, namun keduanya tidak merinci apa saja hal tersebut.

Julia dan Aldi kemudian menjelaskan unspoken dan spoken truth dalam pernikahan mereka. Seperti kelakuan masing-masing yang mulai terlihat aslinya saat menikah. Soal rencana punya anak, dan bahkan soal menikah itu sendiri yang ternyata adalah keputusan besar bagi seorang Julia, karena dia mengaku jika dirinya harus benar-benar memberanikan diri untuk mengambil keputusan menikah.

Pada akhirnya, Julia memutuskan untuk mengatakan "iya" untuk menikah saat dirinya merasa Aldi adalah seorang pasangan yang cocok untuk dirinya. Sosok yang menurutnya bisa melengkapi diri Julia menjadi seorang power couple. Namun keduanya menekankan bahwa untuk memutuskan siapa sosok yang cocok, seseorang harus berpikir visioner dan jangka panjang. Sehingga harus ada perbincangan mendasar tentang visi dan prinsip-prinsip hidup yang ingin dicapai bersama.

Sementara Amy Mardhatillah Ph.D merupakan psikolog yang juga seorang trainer berbagi pengetahuan tentang apa saja yang harus dipersiapkan untuk menuju sebuah pernikahan. Menurut beliau menikah itu adalah sesuatu yang penting, sehingga harus bisa dimaknai secara serius dan membutuhkan persiapan yang kompleks.

Menurut bu Amy yang juga seorang Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana itu, menikah merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan intim manusia. Intim yang dimaksud adalah kedekatan dengan orang lain.

Meski dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi ada banyak hal yang seharusnya diketahui dalam sebuah pernikahan. Ada banyak unspoken truth dalam pernikahan yang harus diketahui.

"Highlight dari Unspoken Truth adalah meskipun berbeda kebiasaan, cita-cita, pengasuhan tapi kalau diniatkan pernikahan itu untuk ibadah kemudian prinsip menikah untuk menciptakan rasa nyaman dan ketentraman," kata beliau.

Berangkat dari kesadaran itulah pernikahan seharusnya tidak seperti mitos yang ada seperti apakah pernikahan jika dilakukan dengan pasangan yang punya masalah akan selamanya tidak bahagia. Pun sebaliknya apakah jika pernikahan dilakukan dengan pasangan yang baik akan selamanya baik.

Ada pula mitos yang mengatakan bahwa pasangan yang tidak pernah konflik akan bahagia selamanya, padahal tidak. Konflik ternyata menurut bu Amy bisa menjadi pelajaran yang berharga dalam rumah tangga. Sebab Inti dari pernikahan adalah tentang belajar mengatasi, memahami, dan mencoba mengapresiasi orang lain yang hidup dalam kehidupan kita. Sehingga konflik bisa jadi menumbuhkan dan menyehatkan pernikahan.

Selain itu, bu Amy juga menekankan bahwa dalam pernikahan tidak bisa hanya sekadar saling memberi dan mengasihi. Sebab jika transksional seperti itu, kedua pasangan akan saling menunggu timbal balik. Sementara dalam pernikahan hal itu tidak bisa terjadi, karena apa yang dilakukan oleh masing-masing harus benar-benar didasarkan pada rasa sayang, penghargaan, penghormatan pada hubungan pernikahan.

Hal yang menarik adalah pernikahan ternyata merupakan bentuk dari upaya laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan sahabat dalam hidupnya. Sehingga kunci utama untuk membangun sebuah pernikahan yang baik adalah dengan memandang pasangan sebagai sahabat sehidup semati yang tentu saja tidak hanya dalam senang, tetapi juga dalam situasi sulit dan duka. Ada naik dan turun dalam hubungan, ada pertengkaran tetapi tetap saja kembali bernaung bersama.

Bu Amy kemudian menjelaskan bahwa hal senang dan sedih bisa dilalui jika dalam persahabatan pernikahan ada rasa saling mengapresiasi kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Seperti saat makan bersama, saat dimasakkan sarapan, saat dibantu mencuci ataupun bersih-bersih rumah, atau saat perbincangan hangat berdua.

Akhirnya, untuk membangun pernikahan yang bahagia, bu Amy mengungkap kuncinya yakni mengenal diri. Dengan mengenal diri, baik orang yang ingin menikah maupun yang sudah menikah bisa mengetahui apa yang dia inginkan dan dia tidak inginkan. Keinginan maupun ketidakinginan itu harus dikomunikasikan dan disampaikan pada orang yang menjadi pasangan sehingga terjadi pemahaman dan empati satu sama lain.

Namun beliau menekankan bahwa mungkin kita juga terlalu mencari keuntungan untuk diri kita sehingga kita lupa bahwasanya membangun hubungan juga penting untuk memberi ke orang lain.

"Baik yang sudah menikah ataupun belum, perbaiki diri setiap hari pastikan kamu punya pemikiran dan hati yang positif sehingga setiap hari menimbulkan tindakan positif."

Amy Mardhatillah Ph.D

Dalam webinar ini mincils mengamati begitu banyak interaksi yang terjadi antara peserta dengan para narasumber. Ada banyak pertanyaan yang disampaikan sehingga forum menjadi begitu menarik. Mincils menjadi merasa telah mampu untuk memberikan webinar yang bermanfaat untuk para peserta.

Mincils pun berharap agar di webinar-webinar berikutnya Krucils Indonesia bisa memberikan pengetahuan yang lebih mendalam dan lebih seru terkait dengan kesejahteraan anak-anak. Di webinar selanjutnya, sobat Krucil akan mincils ajak untuk belajar tentang bagaimana mempersiapkan kedatangan buah hati dalam keluarga!

Siapa yang ingin segera punya momongan?! Yuk persiapkan diri untuk bisa mengondisikan diri dan rumah agar ramah anak. Nah, untuk itu sobat Krucils bisa mengikuti Webinar #6 Dear Mom & Dad, Let's Welcome Their Presence. Daftar sekarang juga.

Sampai jumpa di webinar berikutnya!

Daftar Webinar Krucils Sekarang