Menikah Tidak Hanya Tentang Flowers and Butterfly

August 16, 2019

Menikah adalah tentang membangun keluarga sebagai unit paling kecil dalam masyarakat. Apapun yang terjadi di dalam keluarga akan memberikan dampak yang lebih luas bagi lingkungan. Begitu pentingnya peran pernikahan dalam masyarakat membuat pernikahan harus benar-benar bisa dibangun dengan baik. Itulah pesan dari ibu Fery Farhati yang mengisi webinar krucil edisi empat yang membahas tentang Redefining Marriage: Expectation vs Responsibilities.

Dalam webinar keempat ini, pembahasan meliputi hal-hal seputar pernikahan. Tentang bagaimana memahami pernikahan yang sebenarnya. Tentang memahami bahwa pernikahan bukan hanya tentang ekspektasi kebahagiaan, tetapi juga tentang tanggung jawab dan peran dalam keluarga.

Ibu Fery Farhati menekankan bahwa pernikahan itu bukan melulu tentang flowers and butterly, meskipun penelitian banyak berkesimpulan bahwa dengan menikah seseorang akan bisa menjadi lebih bahagia dibandingkan orang yang tidak menikah. Namun tentu saja membangun pernikahan yang membahagiakan itu tidak mudah, ada banyak hal yang harus dilakukan oleh kedua pasangan jika benar-benar menginginkan terjadinya pernikahan yang membahagiakan.

Tentang persiapan dan perencanaan

Hal utama yang harus dipahami dalam pernikahan adalah bahwa perkawinan merupakan fase hidup yang besar sehingga harus dipersiapkan dengan matang.

"Ada persiapan dan ilmu. Pernikahan tidak bisa dijalani dengan gimana nanti," ucap bu Fery menegaskan.

Persiapan inilah yang kemudian harus benar-benar dipikirkan ketika pernikahan dilaksanakan dan bahkan kalau bisa sejak sebelum perkawinan dilangsungkan.

Salah satu persiapan itu adalah tentang bagaimana menentukan jalan dan rencana pernikahan yang akan dijalani oleh kedua pasangan. Jalan dan rencana pernikahan akan membuka pembahasan tentang apa saja yang ingin dicapai dalam pernikahan, termasuk tentang bagaimana mengelola sebuah rumah tangga bersama. Misalnya, dalam pernikahan ingin memiliki berapa anak, siapa yang harus bekerja, lalu bagaimana pandangan tentang pendidikan, dan banyak lainnya.

Semua perencanaan tersebut harus dibicarakan dan disepakati bersama agar bisa menjadi panduan dan gambaran tentang bagaimana nanti rumah tangga berjalan. Namun harus diperhatikan bahwa kepentingan bersama dalam keluarga adalah yang menjadi prioritas. Dalam pernikahan tidak boleh ada lagi ego pribadi yang harus dipenuhi hanya karena ambisi dan impian.

Dengan merencanakan pernikahan secara lebih matang sebuah keluarga akan menjadi tidak mudah menyerah. Tidak pula mudah mengeluh karena mengeluh sering kali merusak sebuah perkawinan.

Bu Fery Farhati berpesan bahwa siapapun dalam rumah tangga yang ingin berkeluh kesah dan melampiaskan emosi, harus paham bahwa pelampiasan tidak pernah bisa menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah dalam keluarga harus terjadi dalam komunikasi dan dialog untuk dicari solusinya bersama-sama.

"Komunikasikan setiap keputusan yang akan diambil sampai ada kata sepakat," kata beliau.

Ibu Fery Farhati (Foto: Novia Larantika / Krucils Indonesia)

Tentang tanggung jawab menanam

Begitu juga terkait dengan nilai-nilai yang harus ditanamkan dalam keluarga. Nilai-nilai ini penting untuk menciptakan sebuah rumah tangga yang bahagia. Sehingga setiap anggota keluarga harus bisa menanamkan nilai-nilai:

1. Cinta

Dengan cinta, maka rumah tangga akan menjadi rumah yang hangat. Menjadi tempat bernaung siapapun yang pulang dari aktifitasnya sehari-hari yang penat. Jangan sampai rumah tidak ada gurat cinta sehingga penghuninya merasa tidak dicintai dan tidak betah di dalamnya.

2. Visioner

Setiap anggota keluarga, utamanya orang tua harus mampu untuk membangun situasi yang mengajarkan sebuah konsekuensi tindakan. Membayangkan bagaiman sebuah perilaku dan tindakan akan memberikan dampak pada diri sendiri ataupun keluarga. Tanpa kesadaran untuk berpikir ke depan dan visioner, anggota rumah tangga tidak akan bisa saling mengerti.

3. Pembelajar

Belajar adalah sikap utama dalam perkembangan diri. Dalam pernikahan, memang mustahil bisa terjadi secara sempurna. Pasti akan ada hal-hal yang perlu dipelajari untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. Dengan menanamkan nilai pembelajar, sebuah rumah tangga akan bisa terus berkembang dan belajar.

4. Refuge

Refuge bisa diartikan sebagai ketundukan, bisa pula diartikan sebagai kebiasaan. Dalam rumah tangga harus terdapat kebiasaan saling menghormati dan mengerti bahwa masing-masing anggota keluarga harus memiliki ketundukan. Seperti tunduk pada aturan-aturan Tuhan atau patuh pada yang lebih tua. Tunduk dan patuh bukan berarti sekadar mengiyakan tetapi tentang saling menghormati.

5. Kehadiran

Dalam keluarga dan rumah tangga, kehadiran adalah hal penting yang harus dijaga. Setiap anggota keluarga harus hadir untuk anggota lainnya. Permasalahan dalam keluarga akan bisa diselesaikan jika dibahas secara bersama-sama dan saling hadir.


Nilai-nilai di atas merupakan beberapa hal yang menjadi hal penting yang harus ditanamkan dalam sebuah keluarga. Tanpa nilai-nilai tersebut, sebuah keluarga akan jauh dari ekspektasi angan kebaikan yang pernah kita bayangkan saat ingin membangun rumah tangga.

Apalagi jika sebelum menikah sudah membayangkan kalau pernikahan akan selalu tentang kebahagiaan dan kesenangan dan membandingkannya dengan masa-masa lajang.

"Sulit bagi saya untuk mengatakan "nikah saja.. pasti bahagia". Tapi nikah tidak selamanya flowers and butterflies. ada naik dan turun. tetapi apakah kehidupan single juga selalu flowers dan butterflies. Adalah salah jika kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan suami istri. karena keduanya berbeda dimensi dan karakter," ungkap by Fery Farhati saat menanggapi pertanyaan tentang ekspektasi menikah yang sering kali hanya tentang kesenangan dan kebahagiaan.

Bu Fery pada akhirnya kembali menekankan bahwa untuk memulai pernikahan memang menegangkan, membuat diri cemas dan takut. Menurut beliau hal itu adalah sesuatu yang wajar. Namun bukan berarti menikah harus dihindari, sebab kuncinya adalah persiapan.

"Pernah khawatir menghadapi ujian? Tegang. Bagaimana kalau gagal? Selalu cemas. Tapi ternyata jika sudah terlewati sering berkata, oh cuma seperti ini. Kuncinya? Perencanaan dan persiapan. Belajar sebelum ujian. Tentukan arah saat menikah."

Pemaparan dari bu Fery tentu saja telah memberikan gambaran tentang bagaimana memulai sebuah pernikahan. Kita menjadi tahu persiapan-persiapan apa yang harus dilakukan dan bagaimana merencanakan sebuah rumah tangga yang semoga di masa depan akan menjadi sesuatu yang berharga tidak hanya bagi kedua pasangan, tetapi juga untuk anak, keluarga besar dan masyarakat.

Daftar Webinar Krucils Sekarang