Pentingnya Mengasuh Anak Di Usia Emas Pertumbuhan

September 1, 2019

Tidak terasa Webinar Krucils beranjak ke edisi keenam yang berjudul Seeking The Golden Age of Parenting. Webinar ini berusaha untuk mengetahui usia-usia emas pertumbuhan anak. Sehingga orang tua tahu seperti apa kebutuhan yang dibutuhkan oleh anak.

Anak di masa-masa emas mengalami perkembangan fisik, mental, kecerdasan yang sangat pesat. Itu kenapa orang tua harus bisa memaksimalkan pola asuh agar anak bisa berkembang dengan baik.

Di webinar kali ini sobat krucils dibimbing oleh kak Meilita Kusramadhanty pendiri dari Anak Ceria Daycare sebuah kelompok bermain dan pengasuhan untuk anak.

Kak Meilita bercerita bahwa golden age anak itu terjadi pada usia 0 sampai 6 tahun. Di masa-masa tersebut sel-sel otak sedang berkembang dengan pesat. Anak di usia ini belajar banyak hal seperti merangkat, berjalan, berlari dan melompat. Begitu pula dengan belajar berbicara, berinteraksi dan mengenal lingkungan.

Pada usia 0 – 2 tahun adalah tantangan bagi orang tua untuk bisa bercakap dengan anak. Jangan sampai orang tua mengalami frustasi kalau anaknya tantrum. Padahal tugas orang tua adalah menjadi fasilitator, yakni yang memberikan kebebasan yaitu memperkenalkan aturan. Sehingga ego orang tua juga harus bisa dikendalikan.

Selain itu di usia ini keterikatan dan kedekatan (bonding) menjadi modal utama dalam membangun interaksi. Caranya adalah dengan menyusui dan kontak mata saat berinteraksi. Dari kedekatan ini nantinya akan terbentuk kepercayaan, rasa aman dan rasa bergantung.

"Sehingga orang tua yang responsif (tahu kebutuhannya apa) ketika anak menangis harus tahu penyebabnya. Misal bisa membedakan mana yang tangisan ngantuk, lapar atau haus," jelas kak Meilita.

Usia-usia perkembangan anak yang perlu diperhatikan

Jangan sampai orang tua marah karena anaknya di usia 1-2 tahun ditinggal sebentar sudah menangis. Padahal di usia ini anak sedang belajar tentang konsep “objek menghilang dan kembali” jadi misalnya ada anak yang ditinggal ibunya ke kamar mandi meraung-raung akan memukul-mukul karenaa mereka ketakutan objek itu bisa menghilang dan apakah bisa kembali lagi.

Itu mengapa ada permainan "ciluk ba" agar supaya anak mengetahui kalau ada ada objek yang bisa pindah ke sesuatu tempat dan bisa kembali lagi. Namun banyak orang tua belum paham kalau permainan itu ada makna bahwa ada pelajaran objek yang bisa hilang dan kembali lagi.

Kemudian di usia 3 – 6 tahun kemampuan anak untuk bicara sudah terbentuk lebih sempurna. Anak sudah bisa mengomentari sesuatu termasuk dapat berkata tidak & memberikan alasan kenapa mereka tidak mau melakukan sesuatu.

Anak juga mulai punya konsep kepemilikan yakni barang di sekelilingnya sebagai barang miliknya. Sehingga anak juga harus diajari berempati dengan lingkungannya untuk berbagi. Jika tidak diajari inisiatif & kepeduliaan maka akan jadi masalah saat anak berusaha bersosialisasi dengan lingkungan.

Tahap-tahap usia emas inilah yang seharusnya dipahami oleh orang tua.

Menurut Kak Meilita jika anak tidak mendapatkan pola asuh yang tepat, orang tua akan mendapatkan "utang pengasuhan" yang artinya anak tidak akan mendapatkan kualitas pengasuhan yang tepat sehingga orang tua berhutang pada sang anak.

Namun, bagi orang tua yang mungkin baru menyadari atau baru mengetahui pentingnya masa emas anak. Bukan berarti tidak bisa memperbaiki situasi.

"Tidak ada istilah yang tidak bisa diperbaiki. Selama anak masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan, kita masih bisa mengejar ketertinggalan itu. Hanya maksudnya berarti lebih kerja keras," kata kak Meilita.

Anak usia dini itu ibarat semen basa yang mudah untuk dibentuk dan diatur. Sehingga jangan sampai terlambat untuk membentuk agar nanti saat semakin besar tidak kesulitan.

Tiga konsep pengasuhan anak

Kak Meilita kemudian menjelaskan tiga konsep pengasuhan yakni Asah, Asih dan Asuh. Apa sih artinya?

Asah = Mengasah kemampuan.

Bagaimana orang tua memberikan stimulasi kognitif, motorik, fisik, bahasa, dan sosial emosi. Harus bersinergi satu sama lain. Karena aspek-aspek tersebut tidak bisa dipecah-pecah jadi satu. Antar Aspek harus berkesinambungan.

Asih = Pemberian Kasih sayang.

Pengasuhan yang penuh kehangatan. Ini untuk apa? Untuk pemenuhan psikologis anak. Perkembangan psikis.

Asuh = Pemantauan Gizi.

Tidak bisa kognitif dapat terbentuk sempurna tanpa gizi yang baik. Misal, stunting. Ada hambatan / keterlambatan fisik anak. Ini berpengaruh pada kecerdasan kognitif anak.

Pola asuh ini seharusnya dilakukan oleh orang tua sepenuhnya. Sayangnya, menurut Kak Meilita banyak orang tua yang menganggap sekolah sebagai laundry. Orang tua menganggap sekolah bisa membersihkan kesalahan-kesalahan pola pengasuhan.

Seringkali kesalahan pola pikir ini juga dilakukan oleh pihak ayah. Karena beranggapan sekolah dan menyekolahkan saja cukup.
Padahal peran ayah sangat penting bagi perkembangan anak.

Indonesia sendiri termasuk dalam Fatherless Country. Artinya, kebanyakan anak di Indonesia tidak terpenuhi kebutuhan asuhan dari sang ayah. Anak merasakan "Father Hunger" yang kemudian berdampak pada perilaku anak yang agresif dan kenalakan remaja.

Seharusnya jika ayah paham perannya pada anak, tidak perlu waktu yang terlalu berlarut untuk berinteraksi dengan anak. Hanya perlu 10 menit yang berkualitas kebersamaan antara anak dengan ayah. Waktu yang sedikit bila dibandingkan dengan kesibukan ayah selama seharian di pekerjaan dan kantor.

Kesadaran seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak Indonesia.

Namun bagaimana caranya agar orang tua mengerti tentang perannya sebagai pengasuh anak di masa pertumbuhannya? Di sinilah pentingnya visi misi keluarga. Karena dengan adanya visi misi yang jelas, pembagian tugas dan kejelasan peran dalam rumah tangga lebih jelas.

"Ayah ranahnya dimana.. Ibu ranahnya dimanaa," ungkap kak Meilita saat menyoroti kekompakan orang tua dalam rumah tangga.

Dengan memahami peran masing-masing dan tanggung jawab sebagai orang tua, orang tua tidak akan menyepelekan ilmu parenting.

Mengasuh anak ibarat sebuah investasi

Belajar parenting itu seperti investasi kata kak Meilita. Investasi bagaimana?

"Orang tua mau anaknya pintar. Yaa orang tua juga perlu modal. Modalnya itu bukan berfokus pada materi. Melainkan.. fokus pada ilmu pengetahuan dan pengaplikasian ilmu parenting," jelas kak Meilita

Menurut kak Meilita anak yang bahagia itu terlahir dari orang tua yang bahagia. Sehingga pengasuhan yang baik itu bukan hanya dengan pemberian materi yang cukup kepada anak tapi bagaimana bisa berdamai dengan diri sendiri. Mampu mengontrol diri kita untuk bisa berperilaku yang baik. Sehingga menjadi Role model yang baik bagi anak yang juga berbahagia di keseharian.

Nah, dari pemaparan kak Meilita ini menjadi jelas bahwa sobat Krucils yang telah menjadi orang tua seharusnya bisa benar-benar memperhatikan perkembangan anak. Tanpa perhatian dan keinginan untuk memenuhi kebtuhan anak, buah hati tidak akan bisa mendapatkan asuhan yang cukup dan layak. Padahal semua itu sangat dibutuhkan demi masa depan anak.

Untuk sobat krucils yang sudah hadir di Webinar Seeking The Golden Age of Parenting bersama kak Meilita, mincils mengucapkan banyak terima kasih. Semoga pengetahuan dan ilmu yang dibagikan semakin bermanfaat dan bisa diimplementasikan di rumah masing-masing demi kebahagiaan buah hati dan masa depan anak kesayangan ayah dan bunda.

Sampai jumpa di webinar berikutnya ya!

Daftar Webinar Krucils Sekarang